Friday, 13 March 2015

Untung Saja Hanya Mimpi

Hari itu langit memang sedang terlihat muram, tak ada sedikitpun keceriaan yang terpancar saat aku menatap ke atas gumpalan awan berwarna abu. Sungguh hening. Hingga membuatku menjadi menatap kosong tanpa menoleh sedikitpun ke arah manapun.

"Heh."

Tiba-tiba suara yang sedikit berat menghentikan lamunanku. Sangat terpaksa aku harus menoleh walau sedikit malas. Orang itu memperlihatkan gigi putihnya yang berderet sangat rapi di dalam mulutnya. Lantas aku kaget sambil mendelikkan mataku. Untuk apa dia datang kesini.

"Ngapain?" Tanyaku singkat.
"Saya gabisa pulang. Sama kantor disuruh nginep di kosan kamu." Jawabannya membuatku kebingungan. Logatnya yang selalu bilang saya memang sudah tak terdengar aneh di telingaku.
"Apa urusannya kantor sama kosan aku? Lagian ini kan kosan cewek."
"Gatau nih baca aja bbmnya, udah deh cepet saya ngantuk."

Dia lansung saja tidur di kasurku.

"Huh, seenaknya aja!" ucapku dalam hati.

Aku melanjutkan menatap ke atas langit. Dan ku biarkan orang itu tertidur. Ah, sungguh aku tak peduli. Kalau ada ibu kos bagaimana ya? Ya, semoga saja ibu kos tetap di rumah dan tidak beranjak pergi kemana-mana.

Benar dugaanku. Ibu kos sama sekali tidak datang ke kosan. Padahal biasanya dia datang walaupun hanya sekedar mengecek keadaan kos. Sudah malam dan aku sangat mengantuk. Tapi, ku lihat orang itu masih tertidur pulas. Ah, dari dulu aku memang orangnya tak tegaan, tak peduli siapa pun itu. Jika aku memang tak tega, ya takkan pernah kubangunkan. Dan kelihatannya dia capek.

Akupun memutuskan untuk tidur di karpet barbie berwarna merah yang pernah dibawakan ibuku ke sini. Ku matikan kipas angin dan tak lupa ku kunci pintu. Dan mulai meringkuk di atas karpet. Ah, sungguh dingin. Bagaimana orang itu bisa tertidur dengan cepat. Tapi, akhirnya aku tertidur juga.

---

Saat alarmku berbunyi dengan kencang dan menunjukkan pukul 05:00. Aku terbangun, namun berbeda dengan yang semalam. Aku sangat malas bangun karena sangat hangat. Meski masih di posisi yang sama, tetap di atas karpet, namun kulihat di kepalaku sudah ada bantal dan seluruh tubuhku sudah ditutupi oleh selimut.

"Bangun, udah subuh. Solat ga? Saya mau solat awas." Ucapnya sambil menggerakkan tangannya seolah sedang mengusir pemilik rumah.
"Ngantuk. Bentar bentar barengan solatnya." Aku pun bangun dan segera mengambil air wudu. Dan dengan segera menggunakan mukena dan langsung solat berjamaah dengan dia.

Setelah selesai berdoa, aku melipat mukena, Dan, kembali tidur lagi. Kulihat dia sebentar masih khusyu dengan doa-doanya. Karena sangat mengantuk aku pun benar-benar tertidur.

Sekitar jam 7 aku terbangun. Namun kosan sudah sepi. Kemana orang itu? Dan saat ku lihat di meja. Sudah ada bubur kesukaanku dan juga susu. Ada note di sampingnya. Ku raih dan ku baca.

"Ini jangan lupa sarapan, kamu kalo ke kantor kan suka lupa sarapan. Anggep aja bayaran pas semalem saya tidur di kos kamu."

Hihi lucu. Jadi terbayang, jika perlakuan dia ke teman seperti ini, bagaimana ke pacarnya? Ah, beruntung sekali wanita itu. Ucapku dalam hati. Ya, dia memang sudah memiliki kekasih. Dan hubungan mereka sudah lumayan lama. Sejak kuliah.

Bagaimana ya jika temanku tau, dia menginap di kos semalaman? Haruskah kurahasiakan? Pantas saja, temanku begitu suka dengannya. Perlakuannya terhadap wanita memang benar membuat hati berdesir. Ah, bicara apa aku ini. Akupun segera mandi dan sarapan. Setelah itu berangkat ke kantor.

Kulihat dia sudah duduk dengan anteng di mejanya. Dan temanku ada di depannya sedang bercanda seperti biasa.

"Pagi. Udah dimakan?" Tanyanya padaku.
"Udah. Thanks ya!" Jawabku sambil duduk di sampingnya. Mejaku memang bersebelahan dengannya.
Deg. Aku lupa temanku sedang ada di depanku dan melihat dengan aneh. Lalu dia pergi begitu saja. Hatiku jadi tak karuan. Tak enak. Tak ingin hal itu terjadi lagi.

Orang yang duduk di sebelahku itu lalu mengambil rokok dan akan segera membakarnya. Karena aku tak suka orang yang merokok langsung kucegah dengan langsung menyentil rokoknya hingga terjatuh. Orang itu menatapku dan langsung menghembuskan nafasnya.

Lalu tanganku diraih olehnya. Dan dimainkan sambil ditepuk-tepuk di tangannya yang kekar. Tanganku dan tanggannya ada di bawah meja jadi tak terlihat dari luar. Diapun kembali memperlihatkan gigi putihnya yang berderet sangat rapi di dalam mulutnya sambil menatap ke arahku.

Sungguh, hatiku berdetak sangat cepat. Sekarang aku tau apa yang menjadi pesona dia untuk temanku. Senyum dan matanya memang sangat memukau hingga aku pun jadi tak bisa berhenti menatapnya. Lalu dia mulai mengelus tanganku sambil mulai memainkan game kesukaannya yang ada di laptop. Ada perasaan berdesir di hatiku, Seperti ada aliran darah yang mengalir dengan begitu cepat. Meski sekarang mata dia sudah fokus dengan layar laptop, tapi tangan kirinya masih ada di tanganku. Meski sekarang mata dia sudah fokus dengan layar laptop, mataku masih menatap wajahnya.

Tiba-tiba aku mendengar ada suara langkah kaki yang menuju ke arahku. Temanku ternyata sudah melihat kami dari tadi. Sungguh detak jantungku menjadi tak karuan. Dan temanku sudah ada di depanku sambil melihat mataku.

Sampai akhirnya aku terbangun, dan bersyukur itu hanya mimpi. Jika saja itu benar terjadi, hampir saja aku benar-benar ikut terjatuh untuknya. Juga mata dan senyum yang menjadi pesonanya, mungkin saja menjadi pesonaku.

Sungguh, aku beruntung itu hanya mimpi.

No comments:

Post a Comment

Featured post

Minuman Paling Bikin Nyantai ya Milkshake Pop Ice!

Keseharian di Jakarta kadang bikin perasaan tegang gara-gara kepikiran kerjaan yang belum selesai. Atau kadang juga stress gara-gara mikirin...

Instagram