Saturday, 12 July 2014

Takkan Lagi

Pacarku sangat baik hati, aku sangat senang bisa memilikinya. Walau umur kami terpampang jauh, itu tak menjadi kendala. Dia teman sekelasku di kelas 9 ini. Mungkin kalian mempertanyakan umur yang tadi kubilang terpampang jauh. Ya, dulu saat SD dia sempat berhenti sekolah, karena sakit katanya. Aku tak peduli, yang terpenting, dia selalu ada di sampingku sekarang.

Aku ingat betul. Saat itu hari sumpah pemuda, sekolahku tidak libur. Alhasil, kami semua  harus ikut melaksanakan upacara. Dia berkata “nanti kalo udah jam 8 liat aku ya! Kamu liat ke belakang!” entah apa maksud dia berkata seperti itu. Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum. Ku alihkan pandanganku ke depan lapangan. Barisan belum rapi, anak-anak masih ada yang berlarian untuk masuk lapangan, ada yang membetulkan dasi yang tidak rapi, ada yang mengobrol, yah aku sudah sering melihat pemandangan seperti ini di sekolah.

Upacara telah dimulai, kulihat jam sekolah yang tertera di atas dinding sekolah. Jam yang lumayan besar, jadi setiap orang yang melewati sekolah dapat melihat jam itu. Masih jam 07.15. Aku penasaran, aku ingin cepat jam 08.00. Aku tidak fokus selama upacara, rasanya gatal sekali ingin melihat ke belakang. Melihat dia yang bertubuh tinggi. Ku lihat bendera sudah dikibarkan. Akupun hormat. Namun, sepertinya aku belum memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Aku merasa ngantuk dan malas mengikuti upacara hari ini.

“Upacara telah selesai….” ucap protokol upacara. Yes akhirnya! Ku lihat jam di dinding sekolah. Ternyata masih jam 07.59. Yap 1 menit lagi. Aku tunggu dan teng! Jam 08.00, ku alihkan pandanganku dari jam dinding itu dan mulai melihat ke belakang. Apa yang sebenarnya akan dia lakukan. Ku lihat dia berdiri tegak di belakang sana dan dia mulai memainkan tangannya. Pertama dia mengacungkan jari telunjuknya dan mengarahkannya ke dada dia. Aku bingung. Kedua dia membentuk kedua tangannya menjadi bentuk hati. Aku tersenyum. Ketiga dia menunjuk ke arahku. Apa itu artinya “I Love You”? Pikirku dalam hati. Lalu dia melanjutkannya dengan menunjuk aku, lalu menunjuk dia sendiri, dan akhirnya jari telunjuk kanan dan jari telunjuk kiri dia bersatu. Apa itu artinya “Aku kamu jadian”?

Aku masih belum mengerti. Lalu anak-anak berhamburan ada yang langsung pulang ada juga yang masuk ke dalam kelas untuk mengobrol dengan teman-temannya. Sementara aku kembali ke dalam kelas untuk mengambil tasku. Dia pun begitu. Saat aku akan mengambil tasku di atas bangku yang ada di atas meja, dia menggenggam tanganku. Aku kaget. Dia berkata “Kita jadian”. Aku belum bilang iya. Tapi, tanpa jawaban sepertinya dia sudah tau. Sebelum hari itu dia sempat sms : “aku pengen tau perasaan kamu ke aku gimana, biar hubungan kita jelas”. Bahkan dia sempat mencium punggung tanganku di depan anak-anak kelas dan mereka berkata “cieee”.

Sekarang, dia sudah menjadi pacarku. Aku senang. Setiap hari di kelas aku selalu duduk berdua dengannya. Bercanda dengannya. Tapi, kulihat ekspresi temanku yang duduk di depan bangku paling pojok kelas. Apa dia membenciku? Setelah kutolak dia. Aku pun masih ingat. Saat aku bermain dengan pacarku (sebelum kami jadian). Pacarku (sebelum jadian) mengajakku bertemu, dan kami bertemu di perumahan yang berada di daerah belakang rumahku, tapi tidak terlalu belakang rumahku. Aku naik motor di belakang dia. Dia membawa motornya dan mengajakku mengobrol di suatu tempat.

Saat itu aku mengutak-ngatik hpku. Dan dia berkata “ngapain sih?” | “ada sms” | “dari siapa?| “dari … (kusebut nama temanku yang duduk di depan bangku paling pojok kelas). Dia membaca smsnya yang berisi “kamu udah punya pacar?” dan dibalas oleh dia “aku udah punya orang yg ada di hati”. Dia mengembalikan hpku. “Kok gitu?” ucapku karena dia sudah seenaknya membalas sms. “Udah gapapa” lalu dia memegang tanganku. “De, kalo pacaran jangan disini!” ucap seorang satpam yang sedang bertugas. Aku kaget, dia juga. Akhirnya kami pulang karena merasa tidak enak.

Kembali lagi ke kelas.

Aku selalu bersama dengan 4 orang teman cewek dan 1 orang teman cowok. Mungkin bisa disebut genk.   Tapi aku tidak merasa itu genk. Karena tidak baik memiliki genk-genk, terlihat seperti membeda-bedakan teman. Aku hanya merasa pertemanan kami itu spesial, dimana salah satunya saling memanggil kaka dan ade. Oh iya, 1 orang cowok itu adalah cowok yang duduk di depan bangku paling pojok kelas.

Entah kenapa, aku dan dia menjadi dekat sejak aku memiliki pacar. Padahal dia sempat kutolak, ternyata dia tidak marah. Aku senang. Aku senang berada di samping mereka. Setiap pelajaran seni budaya, aku, 4 orang teman cewek dan dia selalu duduk sejajar dan bersampingan. Aku selalu ada di samping dia. Padahal pacarku melihatnya. Tapi, aku yakin dia tidak akan marah karena kita hanya bersahabat.

Waktu terus berjalan, aku merasa sangaaaaat dekat dengan dia dibanding dengan pacarku. Sampai suatu hari. Bel pulang sudah berbunyi dan pacarku pulang lebih dulu dari pada aku. Di dalam kelas masih ada teman-temanku yang lainnya. Dan masih ada dia. Ya kalian tau, aku pasti akan menceritakan sosok itu lagi. Hujan turun, sekolah sudah sepi. Dan hanya ada aku, teman cewekku sebut saja Juju, dia dan teman-teman dia di kantin.

Dia berkata padaku. “De, pinjem spidol coba bentar.” | “Buat apa ka?” | “Buru ih bentar”. Dia pun mengambil spidol yang ada di dalam tasku. Dan maju ke depan tempat anak-anak biasa membeli cireng isi. Disana tertera namaku dan nama pacarku. Dia membuka tutup spidol dan mulai mencoretnya. “Jangan ka” | “Udah ih biarin aja!” namaku dan nama pacarku tercoret dengan tanda silang buatan dia. Aku mengambil spidolku dari tangan dia. Tapi dia malah memegang tanganku. Deg! Jantungku berdetak sangat kencang. Perasaan yang tak pernah ku alami dengan pacarku. Dia terus memegang tanganku. Lalu aku coba lepaskan dan mulai memanggap ini permainan. “Kaka ih!” Dia malah tertawa aku ikut tertawa. Dan setelah hujan reda, aku pulang bersama dia. Tidak. Kami tidak berdua. Aku bersama Juju dan teman-teman dia.

Dia sering sms “kaka sayang kamu” entah kenapa pipi ini selalu mengembang setiap kali membaca sms dari dia. Sampai akhirnya, setelah lama dekat dengan dia, aku membalas sms yang sering dia kirimkan “ade juga sayang kaka” tidak lebih dari semenit dia langsung membalas “hah? Seriusan?”. Entah apa yang kubalas lagi setelah itu. Entah apa hubungan kami saat itu. Aku punya pacar dan perasaanku sepertinya beralih pada dia. Setiap pertemuan kami di sekolah, dia selalu menyentuh tanganku. Dan kubalas dengan senyuman. Ini tidak terjadi sekali. Tapi sering terjadi. Aku tak tahu apakah ada yang menyadari itu.

Saat itu, ada tes psikotes di sekolahku. Aku sudah menyediakan bangku untuk dia. Aku ingin duduk dengan dia. Tapi, pacarku sudah lebih dulu menghampiriku. Dia tersenyum dan duduk di sampingku. Aku melihat ke belakang. Dia memalingkan wajahnya dan tidak melihatku lagi. Aku tulis kata I love you di tangan kiriku, lalu pacarku bertanya, “nulis apa?” | “engga” | “coba liat”. Akhirnya kuperlihatkan hasil tulisan di tangan kiriku. “Love you too” ucapnya. Aku hanya tersenyum dan berharap tes psikotes ini cepat selesai. Sepulang sekolah, seperti biasa pacarku sudah pulang terlebih dahulu. Aku bertemu dengan dia di depan pintu kelas. Aku melihatkan hasil tulisanku tadi kepada dia yang sebenarnya untuk dia bukan untuk pacarku. “Ka lihat ini!” Sungguh aku berani sekali saat itu. Mungkin kalau ada yang tahu mereka pasti akan berkata “dasar ganjen”. Dia tersenyum sangat manis dan mengusap kepalaku. Dia melakukan kesalahan lagi. Dia membuat jantungku berdetak dengan cepat lagi.

Pacarku tidak pernah tahu tentang aku dan dia. Aku tak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tahu. Dia pasti takkan pernah memaafkanku. Di hari lain, pacarku mengajak pulang bersamanya. “Tumben” pikirku. Tapi aku menolak. “Duluan aja” | “Gapapa?” | “Iya gapapa kok” | “Yaudah nanti hati-hati ya” | “Iya”. Pacarku pun pulang, dan sebenarnya aku menunggu kaka. Aku menyebutnya begitu. Dia akan latihan menari di rumah Juju, teman sekelas yang rumahnya dekat denganku. Akhirnya aku pulang bersama dengan dia dan teman-teman sekelompoknya. Karena angkot selalu penuh, akhirnya kami berpencar. Saat ada angkot yang penuh, mungkin sekitar 2 orang yang bisa masuk, mereka masuk satu per satu sampai akhirnya hanya tinggal aku dan dia. “Tasnya berat ngga de? | “Engga kok” | “Huh bohong, keliatan tau! Nih tukeran sama  kaka, hampang kok”. Kami pun bertukar tas. Ada angkot yang lewat di depanku. Di dalamnya ada pacarku dan tersenyum. “Sini masuk kamu” | “Engga, nanti dulu” | “Yaudah”. Deg! Aku takut.

Akupun naik angkot dengan dia setelah ada yang kosong. Aku  takut. Takut berpapasan dengan pacarku. Akhirnya pacarku melihat aku dengan dia. “Ka, ini ongkos aku. Sebentar lagi nyampe.” | “Gausah, ini sama kaka aja”. Aku terdiam. Setelah sampai di depan gang aku dan dia pun turun. Anak-anak sudah menunggu kami. Kami pun berjalan. Di turunan sebelah masjid depan, dia memegang tanganku. Aku dan dia pun berjalan dengan bergandengan tangan. Anak-anak melihatku dan dia dengan senyuman aneh. Ya, aku tahu mereka pasti berpikiran yang aneh. Aku melepaskan genggaman tangannya. Aku sudah berada di depan rumah. “Aku pulang dulu ya, nanti aku kesana” | “Iya”.

Sesampainya di rumah aku mandi dan mengenakan pakaian kuning yang merupakan tokoh kartun kesukaanku. Aku pun berjalan menuju rumah temanku. Aku duduk di bangku luar rumah temanku. Dan aku sms dia. “Aku udah di rumah Juju”. Dia pun datang menghampiriku. Dan duduk di sebelahku dan meletakkan kepalanya di atas kepalaku. “Kaka masuk ih nanti pada marah hayoh” | “Engga, lagi istirahat dulu kok!” | “Oh, yaudah”. Dia memainkan rambutku dan memanjakanku. Aku terus bersamanya sampai akhirnya latihan menari kelompoknya selesai.

Keesokan harinya, akhir bulan November di sekolah, seperti biasa aku selalu duduk dengan pacarku di kelas. Walaupun ada guru di dalamnya. Dia masih mencandaiku, lalu dia bertanya “kemaren kemana?” aku langsung melihat matanya. Dia bertanya dengan serius. “ke rumah Juju” | “ngapain” | “main aja” | “jangan bohong!” dia mulai membentakku. Dan mengeluarkan banyak pertanyaan yang membuatku hampir menangis. Bel istirahat berbunyi. Dia langsung bangkit dari tempat duduk dan mulai menarik beberapa lelaki dan mengajukan pertanyaan. Sampai pertanyaan terakhir kepada Didi. Aku tidak tahu apa yang ditanyakannya. Dia menghampiriku dan mulai banyak bertanya lagi. Aku menangis dan pergi keluar kelas. Aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam kelas.

Namun yang ku tahu seisi kelas ramai. Dan akhirnya aku tahu, pacarku menonjok kaka. Tapi kaka hanya terdiam. Aku semakin terisak dan memeluk teman yang ada disampingku. Kemudian pacarku menghampiriku. Dia berkata dengan kencang “ANGGEP AJA KITA NGGA PERNAH JADIAN! KITA PUTUS!” lalu dia pergi meninggalkan kelas. Aku terdiam. Semua isi kelas ikut diam. Aku mundur dan duduk di koridor depan kelas, terdiam lalu aku menangis. Hatiku rasanya berkecamuk, hatiku sakit diperlakukan seperti itu. Aku malu, sangat malu. Tapi aku juga tahu diri, ini semua memang salahku. Aku tidak berani untuk masuk ke dalam kelas. Semua anak menatapku. Dan yang perempuan mulai menghampiriku. “Sabar ya” kata itu yang semua teman-teman keluarkan. Sungguh, aku ingin segera pulang. Aku tidak mau ada di sekolah. Tapi, bel masuk sudah berbunyi. Aku mulai masuk ke dalam kelas. Semua anak memperhatikanku, aku hanya menunduk. Aku tidak mau melihat seisi kelas. Terutama kaka.

Tak lama kemudian setelah aku duduk. Mantanku itu datang, seisi kelas melihat aku dan dia secara bergantian. Aku sangat lemas. Dia duduk di belakang bangkuku. Ya, memang itu tempat dia. Aku terus saja diam. Lama menunggu guru tapi tak datang juga. Itu pertanda pelajaran kosong. Deg! Aku tidak mau, aku merasa lebih baik ada guru daripada merasa canggung seperti ini. Mantanku mulai maju ke depan kelas. Seisi kelas melihatnya. “Mau apa dia?” pikirku dalam hati. Dia mulai menunjukkan tangannya kepadaku percis seperti yang pernah dia lakukan saat menembakku. Tapi arti tunjukkan itu berbeda sekarang. Hatiku seperti diseret oleh truk besar yang biasa lewat di depan gang sekolah. Aku mulai memberanikan diri melihat dia. “Sini! Maju ke depan kelas!” ucapnya memerintah. “Mau apa?” tanyaku tidak mengerti. “Sini!” dia mulai mendatangiku dan menarik tanganku. Seisi kelas hening. Ya, sangat hening. Dia juga menunjuk kaka. Aku kaget. Apa yang akan dia lakukan saat ini? “Lo juga sini!” tanpa mengucapkan satu patah katapun dia maju ke dalam kelas. Posisi kami di depan seperti ini, aku berada di sebelah kiri mantanku dan kaka ada di sebelah kanan. Kami menjadi tontonan seisi kelas. Aku menunduk.

“Bocah berdua ini mau jadian! Kalian setuju ga?” Kalimat itu terlontar dari mulut mantanku. Hening. Kelas masih hening. Ya Tuhan, aku ingin menangis lagi! Ini sungguh sakit sekali. Aku hanya menunduk. Tidak ada yang menjawab pertanyaannya. “Kalian punya mulut kan? Jawab dong!” dia mulai membentak. “Enggaaaaaa!” itu ucapan anak-anak. Hatiku tersayat. Sebenarnya dia ingin apa lagi? Apa dia belum cukup puas memutuskanku di depan semua anak-anak? “Coba cung siapa yang setuju?” Tanyanya lagi. Namun tidak ada satu orang pun yang mengacungkan tangannya. Mereka terdiam, wajah mereka seperti sedang melihat kengerian. “Lihat! Ada yang setuju ga? Ngga ada kan? Sok silakan jadian!” ucapnya sambil berjalan pergi keluar kelas dan meninggalkan aku dan kaka di depan kelas. Aku menangis lagi dan kembali ke tempat dudukku. Semua masih hening sampai akhirnya ada 4 sahabatku yang menenangkan diriku.

Bel pulang masih belum dibunyikan juga. Aku ingin segera pergi. Mantanku kembali lagi. Entah darimana dia. Setiap kali dia datang seisi kelas langsung sunyi. Aku mencoba menuliskan surat permohonan maaf kepada dia. Karena kalau mengajaknya berbicara, aku tau itu tidak akan mungkin. Aku menyuruh temanku memberikannya kepada dia. “Eh denger deh, gua dapet surat dari bocah! …. “ dia mulai membaca isi suratku. Aku semakin terisak, entah berapa banyak air mata yang ku keluarkan saat itu. “Udah ih udah kasian” seorang temanku mencoba menghentikannya. “Kasian mana sama gua?” perkataan itu yang keluar dari mulutnya. Temanku tidak menjawab, karena dia tahu ini semua tidak akan terjadi jika aku tidak melakukan kesalahan. Aku terus menunggu hingga akhirnya bel pulang dibunyikan. Mantanku bergegas pergi dengan cepat dan menutup pintu kelas dengan sangat kencang.

Aku menutup mata, berharap ini hanya mimpi. Ku hembuskan nafas dengan begitu beratnya. Ku buka mata. Ku lihat disampingku ada kaka. “Maaf ya de” ucapnya. Aku hanya menganggukan kepala dengan lesu. Dia mengsusap kepalaku dan memegang tanganku. “Ade mau kan jadi pacar kaka?” dag dig dug, kenapa dia menembak disaat yang tidak tepat? “Ka, aku baru putus, kaka bisa ngertiin perasaan aku kan?” jawabku padanya. “Oh iya de maaf”.

Hari itu pun berakhir. Hubunganku kandas di akhir bulan dengan cara yang menyakitkan. Aku tahu dia sangat sakit. Tapi aku juga merasa sakit diperlakukan seperti itu. Mungkin itu memang pantas aku dapatkan. Sepanjang hari di sekolah aku selalu murung. Aku masih sangat malu, sampai semua statusku di jejaring sosial dibalas dengan kata-kata yang menyakitkan oleh teman-temanku.

“cie yang baru jadian”

“duh kasian, abis diputusin, dipermaluin pula sama cowok di depan umum lagi”

“makanya jangan nyakitin orang”

Berhari-hari teman sekelasku sedikit menjauhiku. Mencelaku di jejaring sosial seperti itu. Menatap sinis kepadaku. Ya, aku tahu aku bodoh. Sangat Bodoh.

Sejak kejadian di hari itu, aku pun berjanji takkan pernah menyakiti lelaki lagi. Cukup sekali saja aku merasakan bagaimana sakitnya diputuskan di depan umum. Dipermalukan di depan umum.

No comments:

Post a Comment

Featured post

Minuman Paling Bikin Nyantai ya Milkshake Pop Ice!

Keseharian di Jakarta kadang bikin perasaan tegang gara-gara kepikiran kerjaan yang belum selesai. Atau kadang juga stress gara-gara mikirin...

Instagram