Thursday, 18 June 2015

Benda Coklat dan Payung Kecil yang Pernah Bertemu

Melalui uap air yang kulihat dalam botol air mineral itu, tiba-tiba aku teringat hujan. Hujan yang selalu datang tanpa menyapa. Hujan yang selalu senang menyentuh tanah, aspal, kayu, bahkan menyentuhku tanpa permisi. Hujan malam yang saat itu datang dengan tergesa-gesa. Membuat semua manusia bersembunyi mencari tempat yang tak bisa dijangkaunya. Begitu pula dengan makhluk kecil yang ikut bersembunyi karena takut terbawa arus. Payung kecil yang dengan begitu heroiknya mencoba untuk melindungiku tak begitu suka dengan hujan malam yang selalu datang saat itu. Hujan yang datang dengan keras. Seolah mencoba mengajak bertengkar.

Ada 1 payung yang berjalan di depan payungku. Payung yang lebih besar. Yang sebenarnya ingin aku gunakan tapi aku tak ingin juga membawanya. Ada sesuatu berwarna hitam yang digendongnya. Ada juga sesuatu berwarna coklat yang digunakannya. Aku memegang sesuatu yang berwarna coklat itu. Tanpa ada maksud. Tanpa ada apa-apa. Hanya saja merasa dingin, Dan benda coklat itu memang benar-benar hangat. Bersebelahan. Tanpa ada rasa bersalah. Senyum yang mengembang, tawa yang tulus.

Banyak hal yang melihat payung besar dan payung kecil ini merasa senang. Karena berjauhan. Karena kerinduan. Karena hujan. Hujan besar yang tak pernah meminta maaf karena membuatku selalu basah kuyup tak pernah meminta maaf. Tapi, payung kecil yang menahan beratnya hujan selalu berterima kasih karena telah digunakan.

Sungguh. Aku tak pernah berharap bisa merasa berdebar lagi. Tak pernah. Hanya saja, di persimpangan di balik benda coklat itu kembali tersenyum setelah banyak menunjukkan sisi pribadinya. Di balik benda coklat itu, sebuah kehangatan di bawah payung kecilku membuatku sedikit terpaku. Merasa menjadi patung walaupun hanya 3 detik.

Dan di balik benda coklat itu akhirnya menjauh, Tanpa pernah tahu jika itu adalah pertemuan terakhirnya. Pertemuan terakhirnya bersama payung kecil, hujan dan hembusan angin malam. Tanpa pernah tahu payung kecil sedikit berkarat melihatnya bertemu dengan payung lainnya.

Tak pernah ada yang tahu itu. Saat kuucap rindu. Itu rindu yang sebenarnya. Tak ada maksud untuk membuat tersenyum. Hanya ingin menyampaikan apa yang sudah terasa sedikit sesak di dada. Sekarang payung kecil sudah tak pernah digunakan lagi. Bukan salahku. Salahkan hujan yang tidak datang di waktu yang tepat.

No comments:

Post a Comment

Featured post

Minuman Paling Bikin Nyantai ya Milkshake Pop Ice!

Keseharian di Jakarta kadang bikin perasaan tegang gara-gara kepikiran kerjaan yang belum selesai. Atau kadang juga stress gara-gara mikirin...

Instagram