Saturday, 30 May 2015

100 Hari Bertemu Denganmu Lagi

Sore ini aku bertemu lagi denganmu. Kali ini aku bercerita tentang kuliahku yang terasa membosankan karena tak satu tempat lagi denganmu. Tapi, aku bertemu dengan teman-teman baru yang kurasa cukup menyenangkan, ya walaupun aku masih merasa kesepian karena kamu tega memilih tempat yang berbeda denganku. Padahal, dari Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Kejuruan kita selalu berada di satu sekolah yang sama. Tapi tak apa. Aku paham dengan situasimu.

Seperti biasa, kamu selalu diam dan tersenyum mendengar ceritaku. Meskipun kamu tak membalas, matamu selalu terlihat antusias untuk mendengar kisahku di tempat kuliah. Dan hari ini ada yang berbeda darimu. Kamu terlihat lebih berkilau dan sangat tampan! Aku serius! Karena hari ini kamu terlihat tampan, aku membawa cemilan favoritmu saat kita sekolah dulu. Coklat. Ya, aku ingat saat kecil kita sering memakan coklat ini bersama. Dan hari ini kita memakannya bersama kembali. Uh, serasa nostalgia.

Ingatkah kamu? Saat SD kita pernah berada di payung yang sama? Kamu yang memegangnya. Dan kita berangkat sekolah selalu bersama. Kamu menganggukkan kepala tanda bahwa kamu masih ingat. Aku tertawa. Kamu sangat manis hari ini.



Dan saat SMP, kamu pernah membawakan aku payung saat hari hujan dan aku pulang terlambat karena ada ekskul. Kamu selalu mengusap poniku yang basah karena air hujan. Kamu ingat? Kamu pernah membuatkan aku telur ceplok gosong? Aku tertawa lagi. Kamu tetap tersenyum manis. Saat SMP, kamu yang banyak mengajariku Bahasa Inggris. Pelajaran yang sempat membuatku frustasi akhirnya bisa membuahkan hasil karena kamu yang mengajariku. Kamu hebat.

Dan saat kita masuk SMK, kita tetap berangkat bersama. Makan di kantin bersama. Sampai kamu pernah membelikan aku cincin. “Tanda Persahabatan” itu ucapanmu dulu sambil mengusap-ngusap rambutku. Kamu ingat kan? Kamu mengangguk lagi. Ingin rasanya kucubit pipi manis yang pernah dicium oleh teman sekelasku itu.

Ya, kamu ingat? Kamu pernah cerita saat kamu jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dengan teman sekelasku. Aku pernah membantu kamu untuk bisa berpacaran dengannya. Dan? Kamu berhasil berpacaran dengan dia yang merupakan wanita tercantik di sekolah. Kamu ingat? Mukamu tiba-tiba berubah menjadi masam.

Sejak kamu berpacaran dengan teman sekelasku, setiap pagi kamu tak lagi memboncengku. Kamu mengganti boncengan itu dengan teman sekelasku. Aku makan di kantin dengan yang lain, sambil melihatmu menyuapi teman sekelasku. Saat aku pulang ekskul dan hujan, kamu membawakan payungmu untuk teman sekelasku yang juga satu ekskul denganku. Dan pastinya di WeekEnd, kamu selalu terlihat tampan saat jalan dengannya. Sempurna semuanya. Kamu benar-benar berseri dan terlihat bahagia. Saking bahagianya, kamu tak pernah menyapa atau menemuiku lagi. Hehe.

Kamu ingat? Hampir 3 tahun lamanya kamu berpacaran dengannya. Selama itu pula aku tak melihatmu lagi. Sama sekali tak bertemu. Kamu pasti tahu seberapa besar aku merindukanmu? Uh, tak tehitung. Kamu percaya kan? Kamu tersenyum kecil.

Jujur, aku tak percaya. Kamu pernah melakukan hal setega itu dulu. Kamu tega. Aku bisa bertemu denganmu saat ku dengar dari orang tuamu kalau kamu akan segera dikebumikan. Itu awal aku bertemu denganmu lagi. Di hidungmu ada kapas. Matamu menutup. Hatiku sakit. Kenapa aku tak sengaja mengajakmu bertemu saat dulu. Aku malah membohongi diri agar tidak bertemu denganmu lagi. Maaf. Aku pernah berbohong denganmu. Matamu berkaca saat ini.

Jangan nangis. Maaf. Maafin aku. Kenapa aku harus bertemu denganmu saat aku melihat namamu di batu nisan ini? Kamu mau tahu hal lain lagi? Aku pernah membayangkan aku menjadi teman sekelasku. Selalu bisa membuatmu tersenyum, tertawa dan membuat hari-harimu berseri. Maaf. Sejak SMP aku terlalu menyayangimu. Lebih dari teman. Maaf sekali lagi. Tak terasa air mataku jatuh. Kamu hanya melihatku dan kulihat bulir-bulir air ikut jatuh juga dari matamu.

Sudah 100 hari aku datang mengunjungimu. Sudah selama itu juga aku merasa lebih dekat denganmu. Ini cukup sebanding. 100 hari bisa menggantikan 3 tahun aku tak bertemu denganmu. Dan, kupikir ini akan menjadi hari terakhir aku seperti ini. Aku move on ya. Aku akan tetap datang kesini kok. Tapi, aku tak akan melakukan hal ini lagi.

Ini. Bunga untukmu. Ku harap sekarang kamu tahu perasaanku padamu dulu. Kamu harus bahagia disana. Aku akan datang lagi dan berdoa untukmu. Kamu mengangguk dan tersenyum. Dan itu adalah senyuman paling indah yang pernah kulihat seumur hidupku.

Sahabatku, kamu memang selalu menjadi yang terbaik. I love you.

No comments:

Post a Comment

Featured post

Minuman Paling Bikin Nyantai ya Milkshake Pop Ice!

Keseharian di Jakarta kadang bikin perasaan tegang gara-gara kepikiran kerjaan yang belum selesai. Atau kadang juga stress gara-gara mikirin...

Instagram