Saturday, 30 May 2015

Kekecewaan Daun, Angin dan Lebah Madu

Pernah kudengar kisah tentang daun. Daun ini terlihat sangat manis. Warnanya cerah dan bisa membuat orang memujinya karena dia terlihat sangat baik. Bahkan lebih baik dari bunga yang ada disekelilingnya. Lebih kuat dari akar yang menumbuhkannya di batang pohon. Lebih manis saat beterbangan dibanding burung-burung yang terbang dengan bebas.

Namun, daun ini sebenarnya tak seperti apa yang dikatakan di atas. Tak pernahkah terlintas dibayanganmu jika daun pernah mengkhianati angin? Menyakiti angin? Mungkin tidak. Hanya lebah madulah yang dengan setia mendengar semua kibasan angin. Tanpa ada sedikit ocehan, lebah madu setuju dengan angin.

Seperti buku Tere Liye yang berjudul “Daun yang Jatuh Tidak Pernah Membenci Angin”, tapi kukira daun ini mungkin berkebalikan. Daun selalu merasa menjadi korban. Daun selalu membuat dirinya merasa tidak nyaman dengan pohon yang sudah terlihat kokoh dan dipuja banyak orang. Selalu berkebalikan. Daun tak suka dengan pohon yang sudah membantunya tumbuh sedikit demi sedikit. Daun pernah meminta angin untuk membawanya berhembus melewati lembah, sungai, laut, dll. Angin dengan senang hati membawanya melintasi semua yang diinginkan. Bahkan lebih cepat dari perkiraan.

Saat itu daun sampai di sebuah pulau. Dan angin masih ada disisinya. Diam. Bisu. Angin hanya mendengar isakan daun yang terlalu sakit untuknya. Apakah angin telah membawanya ke tempat yang salah? Bukankah daun yang memintanya untuk melewati lembah yang indah itu? Ikut mengalir dengan aliran sungai yang tak terlalu deras. Terbang melewati laut yang memantulkan warna biru langit di airnya. “Aku sepertinya salah.” Pikir angin saat itu.

Kali ini angin lebih banyak terdiam. Biarlah waktu yang membawanya kembali berhembus dengan tenang. Dan bagaimana dengan daun? Dia masih terus terisak dan terus menyalahkan pasir pantai yang menempel di tubuhnya. Dia terisak menyalahkan semut-semut yang membantunya pindah dari sisi pantai ke dalam hutan yang ada di pulau. Dia terus menyalahkan semua yang ada seolah-olah dialah korban.

Sedikit lagi daun itu menyerah dan akan benar-benar rapuh. Terlihat dari semua hal yang dilakukannya. Terlihat jelas dari pola di tubuhnya yang hampir tak ada garisnya lagi. Terlihat dari air yang sedikit mengalir di tubuhnya. Kini dia terdiam bersama hujan. Angin pernah memberi saran untuk melewati kerisauan yang ada di dekat langit, kekacauan yang pernah dirasa gelombang laut, kekhawatiran akan dirinya sendiri yang mungkin akan hilang karena terpaan alam. Tapi, angin sudah tak peduli. Bukankah angin sudah membantunya saat itu?

Sekarang daun ingin mengakhirinya? Sekarang siapa yang salah? Siapa yang lebih tersakiti dan merasa malu? Angin masih ingin mempertanyakan itu kepada daun. Tapi apa daya, daun sudah menyalahkan semua yang ada di dekatnya. Yang sebenarnya ingin membantu menuju tempat yang lebih baik. Sekarang biarkan daun yang memilih. Angin hanya ingin kembali berhembus dan terbang dengan bebas lagi.

Dan, kenapa lebah madu setuju dengan angin? Mungkin dia punya alasan lain.


Bogor, 29 Mei 2015

No comments:

Post a Comment

Featured post

Minuman Paling Bikin Nyantai ya Milkshake Pop Ice!

Keseharian di Jakarta kadang bikin perasaan tegang gara-gara kepikiran kerjaan yang belum selesai. Atau kadang juga stress gara-gara mikirin...

Instagram