Cerita Ibuku Matanya Satu - Ibuku Bermata Satu

Wednesday, March 07, 2012
Berawal dari Bapak yang beli buku baru, dan karena aku suka buku, aku langsung tertarik baca buku ini. Buku ini judulnya : Kisah - Kisah paling Mengharukan di Dunia. Nah, pas aku liat daftar isinya, ada banyak kisah, tapi, aku tertarik buat baca Kisah ke-23 "Ibuku Matanya Satu". Kisah ini, bener-bener bisa bikin aku sedih dan ya tau lah..

Ok, aku akan berbagi sama semuanya. Simak dan resapi cerita ini.

"IBUKU MATANYA SATU"
Cerita Ibuku Matanya Satu - Ibuku Bermata Satu

Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku benci dia... dia begitu memalukan. Ibuku mengelola sebuah toko kecil di pasar loak. Dia mengumpulkan gulma kecil dan menjualnya.

Pada satu hari selama sekolah dasar. Aku ingat bahwa itu adalah hari berkunjung dan ibuku datang. Aku sangat malu. Bagaimana dia bisa melakukan ini padaku? Aku membuang muka dan berlari keluar kelas.

Keesokan harinya di sekolah...

"Ibumu hanya memiliki satu mata?!" dan mereka mengejekku.

Aku berharap ibuku segera lenyap dari dunia ini jadi aku berkata pada ibuku, "Bu, kenapa kau tidak memiliki mata yang lain? Kau hanya akan membuatku jadi bahan tertawaan. Mengapa kau tidak mati saja?" Ibuku tidak menjawab. Setelah mengatakannya aku sedikit merasa bersalah. Tapi pada saat yang sama, aku merasa sedikit lebih baik karena aku merasa bahwa aku harus mengatakan apa yang ingin ku katakan selama ini. Mungkin karena ibuku tidak pernah menghukumku, aku tidak berpikir bahwa aku telah menyakiti perasaannya dengan sangat buruk.

Malam itu... aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku sedang menangis disana, terisak-isak dengan sangat perlahan, seolah-olah takut suaranya mungkin membangunkanku. Aku melihat kearahnya, lalu pergi meninggalkannya.

Karena kata-kataku tadi, aku merasa ada yang mencubit hatiku, tetapi aku benci melihat ibuku dengan satu matanya. Oleh karena itu aku meninggalkannya sendiri.

Aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku akan tumbuh dewasa dan menjadi sukses, karena aku benci ibuku yang bermata satu dan kemiskinan yang melingkupi kami, aku putus asa.

Aku bekerja keras. Aku tinggalkan ibuku, aku pergi ke Seoul, belajar dengan giat dan diterima di Universitas Seoul. Selepas kuliah, aku menikah. Aku membeli rumah sendiri. Lalu aku punya anak. Sekarang aku hidup bahagia sebagai orang sukses bersama keluargaku. Aku suka disini karena itu tempat yang tidak mengingatkanku pada ibuku yang bermata satu. Dalam hidupku sekarang hanya ada kebahagiaan yang melingkupiku. Hingga suatu hari, ada seorang yang tak terduga yang datang menemuiku. Ia adalah ibuku, masih dengan satu matanya. Seolah-olah langit runtuh menimpaku. Anakku yang masih kecil lari ke dalam rumh, karena takut melihat mata ibuku.

Aku bertanya, "Siapa kamu? Aku tidak mengenalmu!" Aku ingin mengatakan itu kepadanya namun aku teriak, "Betapa beraninya kamu datang ke rumahku dan menakut-nakuti anakku! KELUAR DARI SINI SEKARANG!"

Mendengar hal itu, ibuku hanya menjawab, "Oh, saya minta maaf, mungkin saya salah alamat." Dan ia pergi.

Untungnya dia tidak mengenaliku. Aku cukup lega. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan peduli, atau berpikir tentang hal itu selama sisa hidupku.

Kemudian gelombang kehidupan datang  kepadaku.

Suatu hari, sebuah undangan untuk menghadiri reuni sekolah sampai ke rumahku. Aku berbohong kepada istriku dengan mengatakan bahwa aku akan melakukan perjalanan bisnis. Usai reuni, aku pergi ke gubuk tua, yang dulu merupakan tempat tinggalku... hanya karena ingin tahu keadaan di sana. Sampai di sana aku melihat ibuku terjatuh di tanah yang dingin. Tapi aku tidak merasa kasihan kepadanya. Dia menggenggam secarik kertas di tangannya ... itu adalah surat untukku.

Dia menulis :

Anakku, sepertinya hidupku sudah tidak lama lagi. Dan aku tidak akan datang ke Seoul lagi ... tapi apakah terlalu berlebihan bila aku mengharapkan engkau yang datang mengunjungiku sekali-sekali? Aku sangat merindukanmu. Aku sangat gembira ketika aku mendengar kau datang untuk reuni sekolah. Tapi aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolahmu ... untukmu.

Aku minta maaf karena aku hanya memiliki satu mata, dan aku telah membuatmu sangat malu. Kau tahu, ketika kau masih kecil, kau mengalami kecelakaan dan kehilangan salah satu matamu. Sebagai seorang ibu, aku tidak tahan melihat engkau akan tumbuh besar hanya dengan satu mata ... jadi aku memberimu mataku.

Aku sangat bangga dengan anakku yang dapat melihat dunia baru untukku, di tempatku, dengan mata tersebut. Aku tidak pernah marah padamu untuk apa pun yang kau lakukan. Aku tahu kau beberapa kali merasa marah kepadaku. Aku menganggap itu kau lakukan karena kau sayang  padaku. Aku merindukan saat-saat kau masih kecil dulu.

Aku sangat merindukanmu. Aku merindukanmu. Kau segalanya untukku."

Duniaku rasanya hancur!

Lalu aku menangis untuk orang yang mengorbankan matanya untukku ... IBUKU


Kisah dari Korea Selatan, diambil dari http:/www.ezsoftech.com/stories/mis1.asp

2 comments:

Halo semuanya, silakan tinggalkan jejak disini ya :) tolong jangan SPAM atau komentar yang berhubungan dengan SARA. Thanks :)

Powered by Blogger.