Bagaimana Rasanya Melepaskan Tanggung Jawab?


Hari ini, aku merasakan hal yang sudah lama tidak pernah aku rasakan. Saat sedang kerja, tiba-tiba ada notifikasi yang isinya transfer uang sebesar 150 ribu. Kemudian aku bertanya-tanya, siapa yang tranfer karena aku merasa tidak mengenali pengirimnya. Hingga aku klik notifikasinya, dan muncul satu nama yang membuatku menjadi sedikit kesal.

Setelah melihatnya, aku langsung membuka Facebook untuk melihat apa ada pesan darinya. Dan ternyata benar, ada. Isi chat-nya juga membuatku semakin kesal. Apalagi setelah melihat story-nya, kekesalanku semakin memuncak.

Throwback ke awal tahun 2022.

Saar itu, aku dan suami sedang tidak punya motor, lalu teman sesama musisinya menghubungi dan memberikan informasi, temannya (yang sama-sama musisi juga) mau menggadaikan motornya sebesar 4,3 juta. Kami setuju, karena kami pikir ini kan digadai, dan kami juga sedang membutuhkannya untuk bepergian.

Kami pun melakukan transaksi. Motor datang, dan kami pun memberikan uangnya. Aku lupa setelah berapa lama, pemiliknya mengatakan ingin menebus kembali. Tapi, dia akan mengambil motornya dulu, setelah itu transfer... Yap, ini jebakannya dan kami masuk perangkapnya. Kami sadar dan tahu ini hal yang sangat bodoh yang pernah kami lakukan. Kami percaya hanya karena "sesama musisi".

Setelah motor diambil kembali, uang kami tidak kembali. Bahkan, kami tidak mendapat kabar apapun. Teman suami yang merekomendasikan gadai motor ke temannya ini pun ikut membantu karena tidak enak, tapi lagi-lagi kami harus kecewa. Suamiku dan temannya sempat ketemu dan dia menandatangani surat keterangan, yang awalnya kupikir bisa membantu kami secara hukum. Tapi, ternyata tidak ada pergearakan apa-apa dari si pemilik motor dan lama-lama dia menghilang lagi. 

Kami sempat beberapa kali SPAM chat dan telpon. Tapi, ternyata tidak ada tanggapan apa-apa.

Kami menghubungi istrinya.

Karena kami sudah muak, akhirnya suamiku mencari kontak istrinya, dan ketemu. Pada awalnya dia cukup responsive, mau membalas dan memberi respons. Meski tidak membayar hutangnya sepeser pun sampai akhirnya si istri ikut menghilang.

Kali ini, mereka benar-benar menghilang. Istrinya resign dari tempat kerjanya karena kejadian serupa. Dia meninggalkan beberapa hutang. Kami pun datang ke rumah orang tuanya dan mereka bilang, pasutri ini pindah ke Bandung.

"Sialan!" umpatku dalam hati.

Bertemu kembali di Facebook.

Tahun 2024, aku dan suamiku mencari social media mereka yang masih aktif. Tapi, sayangnya tidak ada yang terlihat aktif. Instagram mereka terlihat sunyi dan dikunci. Sampai akhirnya aku menemukan Facehook istrinya yang ternyata masih aktif!

Aku sengaja menambahkannya sebagai teman. Tapi, lama juga tidak dikonfirmasi. Sampai suatu hari, aku mendapatkan notifikasi bahwa permintaan pertemananku di Facebook diterima. Aku langsung membuka message dan mengiriminya pesan. Ternyata dibalas juga, dia berdalih bahwa awalnya dia tidak tahu menahu mengenai hal ini.

Benar-benar terasa seperti kebohongan.

Bayangkan saja, motor tidak ada selama beberapa minggu karena digunakan oleh kami. Memangnya, dia sebagai istri cuek-cuek saja dan tidak bertanya keberadaan si motor ke suami? Ini aneh. Setelah itu, dia berjanji akan bertanggung jawab membayarnya dengan dicicil meski dia terus berkata tidak tahu apa-apa.

Awalnya, dia membayar cicilannya selama 3 bulan. Aku juga mencatatnya:

  • 500K (15/06/24) 
  • 300K (16/07/24) 
  • 500K (15/08/24)

Tapi, setelah itu, dia menghilang dan sulit dihubungi. Chat di Facebook tidak dibalas. Aku benar-benar stress. Aku benar-benar ingin mereka mengembalikan uang kami.

Awal tahun 2025, aku coba mengubungi kembali dan katanya akan membayarnya di tanggal 15. Meski meleset 2 hari, akhirnya aku menerima notifikasi transfer masuk.

  • 500K (17/01/25) 

Di-unfriend

Aku juga masih ingat, saat itu tanggal 21 Juli 2025. Aku sedang membuka Facebook dan ingin menanyakan kembali kejelasan pembayaran hutang ini. Tapi, saat lihat Profile-nya, ada tulisan Add Friend yang artinya akunku di-unfriend! Benar-benar kurang ajar!

Aku benar-benar tak habis pikir dengan kedua pasutri ini. Dia berkali-kali mengatakan:

  • tidak tahu menahu
  • bukan tanggung jawab saya

Aku juga berkali-kali menanyakan kontak dan alamat suaminya yang di Bandung. Tapi, tidak direspon!

Kami benar-benar bingung, bagaimana bisa ada manusia seperti mereka. Bagaimana mereka menjalani kehidupan saat mereka meninggalkan tanggung jawab seenaknya seperti itu?

Aku lupa kapan tepatnya, tapi yang kuingat dia juga sempat mengatakan sudah pisah rumah. Saat itu, website Mahkamah Agung masih bisa melihat file perkara, aku mencari nama mereka berdua hampir setiap bulan, tapi tidak bisa menemukannya.

Setelah itu aku benar-benar pasrah, aku tidak lagi intens chat menanyakan perihal hutang. 

Story keren

Di akhir tahun 2025 aku sering melihat story-story-nya yang keren. Kelihatannya dia mulai bekerja di pemerintahan. Setiap kali dia membuat story, aku membalasnya dengan menanyakan kapan akan dibayar kembali. Tapi, tidak direspon. Hingga akhirnya mulai masuk 2026 dan di bulan ke-3, dia kembali transfer dengan nominal yang tidak sesuai harapan.

  • 300K (18/3/26) 

Dan seperti biasa, dia menghilang kembali.

Lalu, dia mulai kembali upload story yang terlihat sibuk. Bulak-balik Jakarta, Bogor, Bandung, dan lain-lain. Bahkan, aku sempat membalas story-nya yang sedang perjalanan ke pantai. Kubilang "Punten teh ganggu liburannya. Mau nanya, untuk berikutnya mau bayar tanggal brp ya?".

Entah egonya yang tersentil atau bagaimana, dia membalasnya sekitar 1 jam kemudian yang bilang "maaf bukan liburan tp kerja hehee" dan memberikan tanggal yang "katanya" akan dijadikan tanggal untuk membayar hutangnya. Setelah itu, dengan tidak malunya, dia menghilang kembali.

Aku juga sudah malas bertanya.

Dan akhirnya, aku mencoba menanyakan kembali di tanggal 7 Juli 2026. Aku mengirim pesan yang intinya bertanya kenapa hanya bayar setahun sekali dan belum bisa mengikhlaskan uang itu.

Hari ini

Dan akhirnya, hari ini, 16 Juli 2026, aku mendapatkan notifikasi transfer sebesar 150K! Saat membuka pesan di Facebook, dia mengatakan hal ini:

"Sekali LG di ingetin, saya cm bantu nyicilin yang bukan tanggung jawab saya. Soal ikhlas atau ngga terserah"

Saat membaca ini, darahku benar-benar mendidih! Kepalaku mendadak pusing dan entah kenapa aku merasa ingin menangis. Kekesalanku pada dua manusia ini memuncak. Ingin rasanya aku mendoakan hal-hal yang buruk tapi tidak kulakukan.

Lalu kubalas dengan menanyakan kontak dan alamat suaminya. Dia menjawabnya "Cari aja ke temennya, ga tau". Najis! Kurang ajar manusia satu ini.

Dari pesan ini ada satu hal yang mungkin terjadi: mereka sudah pisah.

Aku ingin mencari file perkara mereka tapi sayangnya website Mahkamah Agung sekarang sudah berubah.

Setelah membaca pesannya, aku jadi malas melakukan segala macam hal. Aku hanya ingin mendinginkan kepalaku yang terasa panas dan berat. Aku juga menahan air mataku tumpah berkali-kali karena tidak ingin dilihat suamiku. Aku hanya bilang bahwa aku kesal membaca pesannya.

Tekadku sudah bulat

Hari ini, aku memutuskan untuk tidak melihat kedua orang brngsek ini dan tidak akan pernah menanyakan kembali perihal hutang yang belum selesai itu. Biar mereka saja yang merasakan akibatnya. Aku langsung membuka profile sang istri dan aku mengklik tulisan Block setelah membalas pesan "yaudah, sing berkah we". 

Aku benar-benar muak dengan kelakuan dua orang ini. Terlebih lagi membaca pesan yang seolah-olah meludahiku dan memberikan uang senilai itu ke pengemis yang sudah terlalu lama meminta-minta..

Maksudku seperti ini.. Seandainya dia tidak mau membayar yang katanya bukan tanggung jawabnya, dia bisa memberitahu bagaimana keadaannya dengan kata yang sopan. Rekomendasinya seperti ini:

  • Assalamualaikum, teh punten baru bisa ngabarin, aku udah pisah sama suamiku dan kayaknya udah ga bisa bayar lagi karena ini tanggung jawabnya. Ini nomor dan alamat yang terakhir aku tau, silahkan hubungi ybs untuk hal ini.
Bukankah ini lebih enak dibaca daripada pesan terakhir yang dikirim itu? Apakah mantan guru memang tidak punya manner seperti ini? Aku jadi ingat story-nya yang isi fotonya dia sedang mengajar kelas yang namanya "Excellent Service". Tapi, melihat kelakukannya, sikapnya, dan pesannya, dimana excellent service itu? Aneh sekali.

Dan untuk suaminya, bener-bener pengecut, payah, ngga punya otak sama sekali, ngga bertanggung jawab. Ga ada kata maaf, terima kasih, atau apapun ke suamiku yang udah mau bantu. Bahkan sampai sekarang menghilang entah kemana. Malah ngebiarin istrinya yang bayar ini itu. Najis.

Buat kalian, gimana rasanya melepaskan tanggung jawab? Apa sudah merasa lega karena tidak harus membayar lagi? Apa kalian tidak pernah berpikir karma apa yang akan kalian dapatkan nantinya? Apa karena sudah tidak diminta artinya bisa menghilang begitu saja?

Terakhir, aku ingin menulis FAQ siapa tau mereka membaca tulisan ini, meski rasanya ga mungkin:
  1. Kenapa aku selalu chat ke istri? Karena suaminya ga balas pesan suamiku dan aku! Bahkan kami ga tau kontaknya. Tapi, kenapa dari dulu setiap nanya kontaknya ga dijawab? Malah sekarang yang bilang kayak gitu.
  2. Kenapa ga di-spill di socmed? Kami tau seberapa lemahnya UU ITE. Kami tidak salah, tapi kami bisa jadi pelakunya.
Dan akhir kata, Demi Allah aku belum bisa ikhlas atau maafin kedua orang ini (D & D). Aku belum tau kapan aku bisa punya hati yang sebersih itu sampai bisa ikhlas dan maafin perilaku mereka. Tapi, semoga dengan cara ini, aku dan suamiku jadi punya pelajaran yang berhaga.

Catatan:
Maaf, ada banyak kata kasar di sini, aku benar-benar ga tau harus gimana. Harus cerita ke siapa dan ngelakuin apa. Sebenarnya ada banyak kata yang mau dikeluarin tapi aku rasa ga pantas.

Post a Comment

0 Comments